Lewati ke konten utama
Ekonomi Makro

Ekonomi triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen, tertinggi dalam lima tahun

12 Mei 20265 menit baca
Panorama kota Jakarta dengan Monumen Nasional
Panorama kota Jakarta dengan Monumen Nasional. Foto: Gunawan Kartapranata, Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Pertumbuhan dipimpin belanja pemerintah yang melonjak 21,81 persen, sementara ekspor nyaris tidak bergerak. Komposisi ini menyimpan pesan tersendiri.

Perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, naik dari 5,39 persen pada triwulan IV 2025. Angka ini merupakan pertumbuhan triwulanan tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan sepanjang 2026 tetap kuat pada kisaran 4,9 sampai 5,7 persen.

Yang menopang dan yang tertinggal

Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen, terdorong perayaan hari besar keagamaan dan stimulus pemerintah. Investasi tumbuh 5,96 persen, dipimpin belanja kendaraan dan mesin.

Lonjakan paling mencolok datang dari konsumsi pemerintah yang tumbuh 21,81 persen, disokong kenaikan gaji aparatur dan pelaksanaan program prioritas. Sebaliknya, ekspor hanya tumbuh 0,90 persen.

Membaca komposisi, bukan sekadar angka utamanya

Pertumbuhan yang bertumpu pada belanja pemerintah punya sifat berbeda dari pertumbuhan yang ditopang ekspor. Belanja negara mengalir cepat ke ekonomi lokal, tetapi besarnya bergantung pada anggaran tahun berjalan dan bisa berubah arah pada tahun berikutnya.

Bagi pelaku usaha rakyat, ini berarti peluang yang terbuka sekarang sebaiknya tidak diperlakukan sebagai kondisi permanen. Usaha yang seluruh pendapatannya bergantung pada satu program pemerintah berada pada posisi rapuh ketika program itu berakhir.

Peluang yang paling dekat

Konsumsi pemerintah yang besar biasanya diikuti kebutuhan pengadaan barang dan jasa dalam jumlah banyak: bahan pangan, percetakan, perlengkapan kantor, jasa kebersihan, angkutan, hingga pemeliharaan bangunan.

Sebagian besar kebutuhan itu terbuka bagi usaha kecil, dengan syarat administrasi yang sudah lengkap. Nomor induk berusaha, rekening atas nama badan usaha, dan kesanggupan menerima pembayaran bertempo adalah tiga hal yang paling sering menentukan.

Sementara itu, ekspor yang nyaris tidak tumbuh menandakan permintaan luar negeri belum bisa diandalkan sebagai penopang utama dalam waktu dekat. Anggota yang menyiapkan produk untuk pasar ekspor sebaiknya tetap menjaga pasar domestik sebagai penyangga.

Sumber

Kembali ke daftar newsletter