Lewati ke konten utama
Ekonomi Makro

Membaca arah ekonomi Indonesia setelah pertumbuhan 5,11 persen

20 Juli 20266 menit baca
Kawasan pusat bisnis Sudirman, Jakarta
Kawasan pusat bisnis Sudirman, Jakarta. Foto: Muhammad Rasyid Prabowo, Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0).

Perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025 dengan akselerasi kuat di triwulan IV. Apa artinya bagi pelaku usaha rakyat di daerah?

Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 yang berada di angka 5,03 persen. Nilai Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku menembus Rp23.821,1 triliun.

Yang menarik bukan hanya angka tahunannya, melainkan polanya. Tahun dibuka dengan perlambatan di triwulan I pada 4,87 persen, lalu bergerak naik hingga mencapai 5,39 persen di triwulan IV. Pola menanjak seperti ini biasanya menandakan permintaan domestik yang menguat menjelang akhir tahun.

Apa artinya bagi pelaku usaha rakyat

Pertumbuhan yang menguat di paruh kedua tahun umumnya diikuti kenaikan permintaan konsumsi rumah tangga. Bagi pelaku usaha mikro dan kecil, ini berarti peluang penjualan meningkat, tetapi juga berarti kebutuhan modal kerja naik pada saat yang sama.

Di sinilah persoalan klasik muncul. Banyak pelaku usaha rakyat kehilangan pesanan bukan karena tidak ada permintaan, melainkan karena tidak sanggup memenuhi volume yang diminta. Modal kerja habis lebih dulu sebelum pesanan selesai dikerjakan.

Pertumbuhan tidak merata antarwilayah

Kelompok pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi pada 6,23 persen, disusul Jawa 5,30 persen. Sebaliknya, Maluku dan Papua hanya tumbuh 1,44 persen. Jarak antara wilayah tertinggi dan terendah mencapai lebih dari empat kali lipat.

Bagi kepengurusan daerah, angka ini seharusnya dibaca sebagai peringatan agar tidak menyalin strategi antarwilayah begitu saja. Program yang berhasil di daerah dengan permintaan tumbuh cepat belum tentu cocok diterapkan di wilayah dengan daya beli terbatas.

Langkah yang bisa disiapkan sekarang

Pertama, rapikan pencatatan usaha. Tanpa catatan penjualan dan biaya yang tertib, sulit menilai apakah usaha benar-benar tumbuh atau hanya berputar. Kedua, petakan siapa pembeli terbesar dan seberapa besar ketergantungan usaha kepada mereka. Ketiga, mulai hitung berapa modal kerja tambahan yang dibutuhkan jika permintaan naik dua kali lipat.

Tiga langkah sederhana ini menjadi dasar sebelum pelaku usaha masuk ke skema modal bersama maupun penjajakan kerja sama antaranggota.

Sumber

Kembali ke daftar newsletter