
Nilai ekspor batu bara anjlok 19,7 persen sepanjang 2025, sementara besi baja dan CPO justru menguat. Pergeseran ini membuka ruang usaha baru di daerah.
Sepanjang 2025, nilai ekspor batu bara Indonesia turun 19,70 persen, dari USD30,49 miliar menjadi USD24,48 miliar. Volume pengapalan juga menyusut 3,66 persen menjadi 390,3 juta ton.
Pada saat yang sama, dua komoditas lain justru menguat. Ekspor besi dan baja naik 8,41 persen menjadi USD27,97 miliar, sedangkan minyak kelapa sawit beserta turunannya melonjak 21,83 persen menjadi USD24,42 miliar dengan kenaikan volume 9,09 persen.
Arah hilirisasi mulai terlihat
Kenaikan ekspor besi baja tidak lepas dari kebijakan hilirisasi mineral yang berjalan beberapa tahun terakhir. Produk yang dulu diekspor sebagai bahan mentah kini diolah lebih dulu di dalam negeri sebelum dikirim ke luar.
Konsekuensinya, pusat aktivitas ekonomi bergeser ke wilayah tempat kawasan pengolahan dibangun. Ini menjelaskan mengapa Sulawesi mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi pada 2025 di angka 6,23 persen.
Peluang yang jarang dilihat pelaku usaha kecil
Ketika kawasan industri tumbuh, yang dibutuhkan bukan hanya investor besar. Ada kebutuhan harian yang harus dipenuhi: penyediaan pangan untuk pekerja, jasa angkutan, penginapan, perawatan peralatan, hingga jasa kebersihan dan keamanan.
Kebutuhan seperti ini justru paling cocok dikerjakan pelaku usaha lokal. Masalahnya, banyak pelaku usaha kecil tidak mengetahui pintu masuknya, atau tidak memenuhi syarat administrasi untuk menjadi pemasok resmi.
Yang perlu disiapkan
Untuk masuk ke rantai pasok kawasan industri, pelaku usaha umumnya perlu memenuhi tiga hal: badan usaha yang sah beserta nomor induk berusaha, kemampuan memasok secara konsisten, dan kesanggupan menerima pembayaran dengan tempo tertentu.
Syarat ketiga inilah yang paling sering menjadi penghalang, karena menuntut ketersediaan modal kerja. Skema modal bersama antaranggota dapat menjadi jalan keluar untuk menjembatani jeda pembayaran tersebut.

