Lewati ke konten utama
Ekonomi Daerah

Jarak pertumbuhan antarwilayah melebar, strategi daerah tidak bisa seragam

15 Juni 20264 menit baca
Pedagang di pasar terapung Kalimantan
Pedagang di pasar terapung Kalimantan. Foto: Muhammad Haris, Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Sulawesi tumbuh 6,23 persen, Maluku dan Papua hanya 1,44 persen. Selisih sebesar ini menuntut pendekatan usaha yang berbeda di tiap wilayah.

Data pertumbuhan ekonomi 2025 memperlihatkan jarak yang lebar antarwilayah. Sulawesi memimpin dengan 6,23 persen, diikuti Jawa 5,30 persen, Bali dan Nusa Tenggara 4,87 persen, Sumatera 4,81 persen, serta Kalimantan 4,79 persen. Maluku dan Papua tertinggal jauh di 1,44 persen.

Pulau Jawa tetap menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar 56 persen produk domestik regional bruto nasional, sehingga dinamika ekonomi Jawa masih sangat menentukan angka nasional.

Mengapa keseragaman program berisiko

Program yang disusun terpusat sering kali mengasumsikan kondisi pasar yang serupa di semua daerah. Padahal, wilayah dengan pertumbuhan di atas 6 persen menghadapi persoalan yang berbeda dari wilayah yang tumbuh di bawah 2 persen.

Di wilayah bertumbuh cepat, hambatan utamanya adalah kapasitas: permintaan ada, tetapi pelaku usaha tidak sanggup memenuhinya. Di wilayah bertumbuh lambat, hambatannya justru pada sisi permintaan dan biaya logistik yang tinggi.

Pendekatan yang lebih masuk akal

Untuk wilayah bertumbuh cepat, prioritasnya adalah mempercepat penjajakan kerja sama usaha dan memperkuat permodalan agar kapasitas produksi menyusul permintaan.

Untuk wilayah bertumbuh lambat, prioritasnya adalah pendampingan intensif dan fasilitasi akses pasar antardaerah, agar produk lokal tidak hanya bergantung pada daya beli setempat yang terbatas.

Perbedaan pendekatan ini sejalan dengan mekanisme organisasi yang menempatkan forum kecamatan, musyawarah daerah, dan musyawarah wilayah sebagai tempat usulan program disusun sesuai kondisi masing-masing, sebelum disampaikan berjenjang untuk mendapat pengesahan pusat.

Sumber

Kembali ke daftar newsletter